Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Keselamatan dankesehatan kerja merupakan salah satu aspek yang harus dipertimbangkan dalam melakukan suatu pekerjaan disamping dua aspek lain, yaitu pemenuhan target produksi sesuai mutu/spesifikasi dan pengurangan dampak negatif terhadap lingkungan. Ketiga aspek tersebut tidak dapat berdiri sendiri, tetapi merupakan satu kesatuan yang saling terkait dan masing-masing memiiki peran yang strategis serta tidak dapat terlepas satu dengan lainnya.

Pengertian umum dari keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu usaha untuk melaksanakan pekerjaan tanpa mengakibatkan kecelakaa atau nihil kecelakan dan penyakit akibat kerja atau zero accident. Secara keilmuan keselamatan dan kesehatan keja berarti sebagai ilmu dan penerapan teknologi tentang pencegahan terjadinya kecelakan dan penyakit akibat kerja. Secara filosofis keselamatan dan kesehatan kerja mengandung makna terjaminnya keutuhan jasmani dan rohani manusia secara umum dan tenaga kerja secara khusus selama mereka melakukan aktivitas di tempat kerja dengan tercapainya hasil karya yang diharakan. Sedangkan pengertian keselamatan dan kesehatan kerja dalam kamus intercollegiate disebutkan bahwa keselamatan kerja secara umum diartikan sebagai interaksi antara manusia, mesin dan media yang memiliki potensi untuk menimbulkan kerusaka pada sistem, tidak tecapainya sasaran, hilangannya jam kerja atau celakanya pekerja. Tujuan dari keselamtan dan kesehatan kerja adalah untuk mengadakan pencegahan agar setiap personil atau karyawan tidak mendapatkan kecelakaan terjaminnya kesehatannya dan alat-alat produksi tidak mengalami kerusakan ketika sedang melaksanakan pekerjaan.

Prinsip keselamatan kerja bahwa setiap pekerja dapat dilaksanakan dengan aman dan selamat dan secara terus menerus. Suatu kecelakaan terjadi karena ada penyebabnya, antara lain manusia, peralatan atau kedua-duanya. Hal-hal yang perlu diketahui agar pekerjaan dapat dilakukan dengan aman, antara lain:
1.      Mengenal dan memahami pekerjaan yang akan diakukan.
2.      Mengetahui potensi bahaya yang bisa timbul dari setiap kegiatan pada setiap item pekerjaan yang akan dilakukan.
3.      Melaksanakan ketentuan yang tertuang dalam Daftar Simak K3.

Keselamatan kerja sangat penting diperhatikan dan dilaksanakan antara lain untuk :
1.      Menyelamatkan karyawan dari penderitaan sakit atau cacat, kehilangan waktu dan kehilangan pemasukan uang.
2.     Menyelamatkan keluarga dari kesediahan atau kesusahan, kehilangan penerimaan uang dan masa depan yang tidak menentu.
3.    Menyelamatkan perusahaan dari kehilangan karyawan tenaga kerja, pengeluaran biaya akbiat kecelakaan, melatih kembali atau menganti karyawan, kehilangan waktu akibat kegiatan kerja terhenti dan menurunnya produksi.

Untuk mencegah terjadinya kecelakan perlu dilakukan pembinaan keselamatan kerja terhadap karyawan agar dapat meniadakan keadaan yang berbahaya di tempat kerja. Banyak cara yang dapat dilakukan perusahaan untuk membina keselamata kerja pada karyawannya, baik bersifat dalam ruangan (indoor safety development ) atau praktik dilapangan (outdoor safety development). Setiap perusahan harus memiliki safety officer sebagai personil atau bagian yang bertanggung jawab terhadap pembinaan keselamatan kerja karyawan maupun tamu perusahaan. Usaha –usaha yang dapat dilakukan dalam rangka pembinaan keselamatan kerja, antara lain :

1.      Penyuluhan singkat atau safety talk.
a.     Motivasi singkat tentang keselamtan kerja yang umumya dilakukan setiap mulai kerja atau pada hari – hari tertentu selama 10 menit sebelum bekerja dimulai.
b.      Pemasangan poster keelamatan kerja.
c.       Pemutaran film atau slide tentang keselamatan kerja.

2.      Safety committee
a.       Mengusahakan terciptanya suasana kerja yang aman.
b.      Menanamkan rasa kesadaran atau disiplin yang sangat tinggi tentang pentingya keselamtan kerja.
c.       Pemberian informasi tentang teknik-teknik keselamtan kerja serta peratalan keselaamtan kerja.

3.      Pendidikan dan pelatihan
a.    Melaksanakan kursus kesematan kerja baik dengan cara mengirimkan karyawan ke tempat-tempat diklat keselamtan kerja atau memberikan pelatihan di dalam perusahaan.
b.      Pelaksanaan nomor 1a dapat di dalam negeri atau pun diluar negeri.
c.       Latihan penggunaan peralatan keselamatan kerja.
Alat-alat keselamatan kerja harus disediakan oleh perusahaan. Alat tersebut berupa alat proteksi diri yang diperlukan sesuai dengan kondisi kerja.

Ancaman kecelakan atau cedera yang terjadi dapat ditumbulkan oleh beberapa faktor, ada dua faktor terpenting yang perlu mendapat perhatian dari beberapa tingkatan pekerjaan di setiap tingkatan kegiatan yaitu perilaku/perbuatan yang tidak aman (unsafe act) dan kondisi lingkungan kerja yang tidak aman (unsafe condition). Beberapa contoh dari perilaku yang tidak aman yang berpotensi untuk menimbulkan kecelakaan di tempat kerja:
1.      Melakukan pekerjaan yang bukan tugasnya.
2.      Tidak memakai alat pelindung diri.
3.      Memuat suatu melebihi batas ketentuan yang telah diterapkan.
4.      Menempatkan bahan atau peralatan di sembarang tempat.
5.      Posisi kerja yang tidak tepat.
6.      Bersanda gurau waktu bekerja.
7.      Bertengkar pada sedang melaksanakan tugas.
8.      Berada dibawah pengaruh alkohol atau obat-obatan,

Beberapa contoh dari kondisi lingkungan kerja yang tidak aman yang berpotensi menimbulkan kecelakaan dan ganguan kesehatan di tempat kerja :
1.      Lantai kerja yang tidak aman.
2.      Alat pelindung diri dibawah standar K3.
3.      Peralatan kerja sudah rusak.
4.      Gerak tidak leluasa karena ruang kerja yang sempit.
5.      Pelaratan pemadaman kebakaran yang sudah kadaluarsa. 
6.      Pencahayaan di ruang kerja kurang memadai.
7.      Sistem ventilasi ruang kerja tidak berjalan dengan baik.

Faktor kedua yang berhubngan dengan kondisi lingkugan kerja dipangaruhi pula oleh faktor – faktor :
1.      Faktor fisik yang meliputi penerangan, suhu udara, tingkat kelembapan, cepat rambat udara, suara, vibrasi mekanis, radiasi, tekanan udara dan lain sebagainya.
2.     Faktor kimia melipti gas, uap, debu, kabut, asap, awan, cairan dan benda-benda yang padat lainnya yang memiliki kandungna zat-zat kimia yang mempengaruhi kesehatan.
3.      Faktor biologis meliputi golongan hewani dan tumbuh-tumbuhan yang mempengaruhi kesehatan kerja.
4.      Faktor fisiologis meliputi konstruksi mesin, konstruksi tempat kerja dan lain sebagainya.
5.   Faktor sosiologis, meliputi susunan kerja, hubungan antar sesama pekerja, hubungan pekerja dengan atasannya, hubungan pekerja dengan pemberi kerja dan pemeliharaan kerja.

Langkah-langkah yang umum dilakukan untuk mengidentifikasi dan pengendalian rasio di tempat kerja adalah :
1.    Mengidentifikasi peralatan yang digunakan oleh para pekerja di setiap tahapan kegiatan, bila peralatan memiliki potensi bahaya yang cukup tinggi, maka peralatan tersebut harus diganti dengan peralatan yang tingkat resikonya lebih rendah.
2.  Mengidentifikasi material atau bahan yang digunakan, bila terdapat penggunaan material atau bahan yang mengandung bahaya terhadap manusia, perlu dipertimbangkan menggunakan bahan yang lain yang sejenis yang lebih aman tanpa mengurangi mutu produk yang dihasilkan.
3.      Mengidentifikasi tempat dan kondisi kerja, bila disainnya membahayakan para pekerja, perlu dilakukan disain ulang sehingga tempat kondisi kerja menjadi lebih nyaman dan tidak terlalu berisiko bagi para pekerja.
4.    Mengecek dan mengisolasi sumber-sumber bahaya di setiap tapahan kegiatan, misalnya listrik ditempatkan di tempat yang tidak membahayakan, tangga tempat turun naik pekerja diberi pegangan yang memadai dan lain sebagainya.
5.      Menugaskan pekerja yang memiliki kompetensi di bidannya.

Ketiga langkah tersebut harus pula dilengkapi dengan :
1.   Pengendalian secara administrasi, seperti menetapkan prosedur kerja, prosedur pemakaian alat, instruksi kerja, supervisi pekrejaan secara berkala serta simbo-simbol dan slogan-slogan K3 yang ditempatkan di tempat-tempat tertentu yang mudah terlihat oleh setiap orang atau pekerja.
2.   Pengunaan alat pelindung diri yang dipakai sesuai dengan standar industri yang berlaku yang harus diwajibkan kepada setiap pekerja sesuai dengan kebutuha alat pelindung diri di tempat kerja.

Ini adalah materi yang diketik ulang dan saya ambil point – pointnya dari modul Juru Ukur Kuanitas Bangunan Gedung yang didalam materinya membahas Penerapan Ketentuan K3 dan Ketentuan Pengendalian Lingkungan di Tempat Kerja.  Untuk teman – teman yang membaca blog saya bila ada salah penulisan atau kesalahan dalam blog ini mohon dimaafkan dan tolong bantu untuk mengkoreksi. Terima kasih


0 Response to "Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel